Tampilkan postingan dengan label Dimuat di Koran Harian Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dimuat di Koran Harian Aceh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Kertas

Karya: Deddy Firtana Iman


Kertas merah

di daur ulang menjadi merah jambu

terlalu sulit

merangkai bentuk wajah indahmu

sedangkan malam

memudarkan warna hati

hitam bertaburan bintang


07 September 2010


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 03 Oktober, 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Waktu

Karya: Deddy Firtana Iman


Misalnya aku menjadi detik

ketika jam dinding mengabarkan

waktu kebahagiaan untukmu

ijinkan aku mengabarkan

sesuatu kebahagiaan

sebelum mimpi indahmu

pergi menemani tidur


Ketahuilah wahai kekasihku

detak jantungku tak mampu

meneruskan kepercayaan

cintaku untukmu

bersabarlah menunggu

demi waktu yang tersisa untukmu


17 September 2010


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 03 Oktober, 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Hitam Pekat

Karya: Deddy Firtana Iman


Di balik lentera hati

ada beberapa insan kata

berhenti hanya tersenyum

dengan sedikit hembusan angin



Kedekatanku

tak pernah menimbulkan

kejiwaan dadakan

menghembuskan kata-kata

di daerah takdir tak bertepi



Seumpama kertas itu

hanya berwarna hitam

maka hitamlah ratapan kita

tak terlihat dengan mata telanjang


2010



Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 19 September, 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Renungan Malam

Karya: Deddy Firtana Iman


Kau telah menyingsut kedinginan

betapa kenestapaan itu terjalin sepi

menandakan bintang-bintang kian

tersenyum melihat bulan di dekat

landasan perbaringan mengapai takdir
mimpi

tiada kata untuk mengucapkan salam
perpisahan

di antara bayangan kerinduan untukmu

sebelum mengapai pagi


(Agustus 2010)

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 29 Agustus, 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Sempurna Terdiam Sepi

Karya: Deddy Firtana Iman


Lihatlah
hamparan pasir di pantai

Berjalanlah
memakai alam pikiran kesegaran hati

Jangan berhenti
penyesalan menghantui dirimu
dan tetap berjalan

Rasakanlah air asinnya
basuhlah kedua tanganmu
dan rasakan kesempurnaan
tanpa terdiam sepi
karena angin menemanimu
di setiap langkah kakimu



2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 25 July, 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Tak Ingin Usai

Karya: Deddy Firtana Iman


Bahwasannya aku

masih menyisakan waktu

bermanja pada wujudmu



Tak ingin usai

walaupun kusudahi

kesempatan untuk menemui

disetiap jarak isi hati

dengan segalagala hari

hingga kuakui



Aku tak ingin usai

dicintai dan dimengerti

oleh sebuah hati

dari dirimu sendiri



2010

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 09 Mei, 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Ayah

Karya: Deddy Firtana Iman


Doakanlah untuknya

yang telah membesarkanmu

walaupun wujudmu

menangisi kepergianya

Kusadari

semuanya tiada yang abadi

walaupun kita berdiri

di tepian waktu sekian hari

Dan hari ini

aku juga mendoakanmu

dan Ayahmu juga

Amin


2010


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 25 April 2010

Puisi ini kupersembahkan untuk berpulang ke rahmatullah, Ayahanda dari sahabatku T Arizona. Semoga segala amalan ibadah Beliau diterima oleh Allah SWT, dan segala kesalahannya diampuni oleh Allah SWT, serta T Arizona beserta seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan. Amin ya Rabbal Alamin.

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Puisi Jaga Malam

Karya: Deddy Firtana Iman


Malam dingin

aku melamun tentang kesepian kota

terhenti dengan neon perkampungan sudut

kota

apa ada gerangan menjerit duka

dengan berpura-pura mabuk di dekatku

melirikku dengan untaian lagu kesepian

Inilah kota juang

yang dibicarakan orang-orang dungu

tentang pejuang yang gagal

tanpa ada cacat sedikitpun

melarikan diri dari kepungan kematian.

Cahaya inilah buktinya,

terus-menerus melirik jawaban kebena-

ran,

tentang hilangya prajurit kami.


2009


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 18 April 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Air Mata Ibu

Karya: Deddy Firtana Iman


Ibu mengayuh tangan

menghajar batu kekal

di tepi gunung yang jurangya memikat

kematian


Pulang-pulang

tanganya berlumuran darah

baju basah kuyub

segoni batu-batu telah didapatnya

dengan perasaan yang galau

penuh tanda tanya yang mengherankan

“untuk apa kita hidup

hanya berbekal penipuan yang angkuh

sirna dihapus hujan

tidak abadi di hinggap matahari”


Kami semuanya terdiam

mendengar jerit hatinya

mulai mengeluarkan air batu

dari bola matanya yang resah

aku pikirkan jerit hatinya

tentu saja tapak tanganya

tiada berhenti untuk bekerja

memenuhi kebutuhan kami

hingga Ibu meninggal dirintih kesakitan

oleh hidup melarat kemiskinan


(2009)

*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 11 April 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Isyarat Kematian

Karya: Deddy Firtana Iman

Usiaku
mulai meninggi
dusta nestapa melingkar leher
Ribuan keji munafik tercipta
agama terlupakan

Malaikat mulai mendekat
memperlihat senjata
wujudku membisu

Iblis dan setan-setan mulai tersenyum
Memiliki teman dikemudian harinya
Isyarat kematian untukku

Inilah
aku, lelaki pendusta itu
yang engkau cari
yang selama ini membunuhmu
Lihatlah aku
dan tataplah wajahku


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 04 April 2010

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Munajat Burung Merak

Karya: Deddy Firtana Iman

Siapa sangka
Tulisanya telah tertulis di batu nisan
Hingga tertidur dengan senyum
Hingga hujan pun membasahi kota kami
Mendengarkan kepergianya

Hilang sudah
Suaranya yang bergetar itu
Kepakan sayapnya yang megah itu
Warna yang merekah itu
Kembali kepadaNya

2009

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Munajat Natijah

Karya: Deddy Firtana Iman

Kebahagianku dariMu
Milikku adalah milikMu
Segalanya.

Kesabaranku belum dapat diukur
Dengan keimananku
Tunjukkanlah jalanMu
Semoga aku dapat menikmati buah Kurmamu
Ketika Ramadhan berkumandang Sahur
Terwujudlah kesabaran dan keimananku untukMu

Buah-buahan
Kenikmatan tiada tara
Setara atau pun tidak
Adalah milikMu
Munajat Natijah

2009


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Munajat Nyanyian

Karya: Deddy Firtana Iman


Penuh Doa-doa
Kebahagiaan itu hadir dipelukanku
Seperti senja menarik fajar

Kenikmatan apa lagi
Yang hadir dalam rebahan takdirku
Penuh sujud syukur
Kebahagiaan itu hadir kembali
Di hari esok yang kelabu

Nyanyian hati
Bahasa jiwa yang terpatri
Dari hari ke hari
Penuh kesabaran

2009


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Munajat Kerinduan

Karya: Deddy Firtana Iman

Terbuka mataku
Cerahan cahaya menusuk
Membenarkan adanya diriMu

Lamunanku pun memanggil namaMu
Rindunya aku padaMu

Kebahagian dan kerinduanku
Tepat tertunduk bersujud
Siang dan Malam
Memberikan cahaya panggilanMu

MerindukanMu
Siang dan Malam
Tak terlupakan
Doa-doa memujamu

2009

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 13 September 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Hening

Karya: Deddy Firtana Iman

Aku akan hilang tanpa menyentuh tanah
Seperti angin berisi daging Manusia
Mempermainkan kekosongan waktu
Demi ujung tali terputus isyarat cintanya
Tanpa kata-kata penutup mata kebisingan
Itulah titik akhir waktu persinggahanku
Terbakar oleh ketidak pastian cuaca pagi
Mengantarkanku pada roh persinggahanku
Hingga membuatku menelusuri surga dunia

2009

Dimuat di Koran "Harian Aceh" Minggu, 26 Juli 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Katakan Percuma

Karya: Deddy Firtana Iman


Mari menari

Dengan iringan lagu

Atau musick lirik cinta

Hanya sebaris kata cinta

Dari malam

Sampai mata terbuka

Untuk melihatku tertawa

Katakan percuma

Dari relung hatimu

Ketika aku masih tersenyum

Untuk dilihat saja

Dari ucapanku

Kalau tak sanggup

Bernyanyi untukku

Katakan percuma

Sebagai ungkapan

Kesesalan darimu

Semoga aku mengerti


13/08/2008


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu, 08 Maret 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Aku Sungguh Ada

Karya: Deddy Firtana Iman


Kau mungkin tak yakin

Kalau aku masih berjalan

Setelah berjalan berpetualangan

Sesudah mencarimu di pinggiran jalan

Aku sungguh ada

Aku serahkan tiada dua

Agar nanti bahagia

Asalkan kau tak kecewa

Kau mungkin tak yakin

Aku masih dibutuhkan

Dibutuhkan saling pengertian

Agar nantinya dapat merasakan kebahagiaan


13/08/2008


*Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu 8 Maret 2009

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Luka Kecilku

Karya: Deddy Firtana Iman


Waktuku berdosa di masa lalu

Tak mengenal arti Tuhan

Masa muda terabaikan

Peradaban luka kecilku

Kosong melompong pikiran batinku

Hanya ucapan terasa-rasa kalbu

Kamarku mulai berhantu

Tentang kisah para pengikut suku

Pisau di tangan pembunuh berdarah

Tak tersentuh pertaubatan

Matipun takut aku rasakan

Telah bersusah payah aku berbaik hati

Cuma rasa kasihan mati

Itupun sehari semalam

Impian luka yang tenggelam

20-07-2008

Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu 14 Desember 2008

Sumber:
Deddy Firtana Iman

Air Danau

Karya: Deddy Firtana Iman

Luasan genangan alas

air dalam kolam

Setipis sulaman

Mengikat talam dalam

genangan daun

menyemakkan danau

melukiskan kuncupan daun

Air berarak kacau

Danau yang tersudutkan

oleh perantau

menangis pilu lupakan kehidupan

Terseret oleh arus yang kacau

Menepis cemaran air danau

2008


Dimuat di koran lokal "Harian Aceh"
Minggu 14 Desember 2008


Sumber:
Deddy Firtana Iman

Pelangi

Karya: Deddy Firtana Iman

Cahaya dari balik alam langit
Antara malam tinggal kenangan
Sebelum awan datang menyempit
Manusia bersyukur dengan kegirangan

Cahayanya penyejuk hati manusia
Berbisik lugu kepada awan
Unutk bumi cucurkan air hujan
Biarkan manusia yang menikmatinya

Bumi menunggu akan tibanya pelanggi
Bercahaya diatas bumi
Sambil tersenyum memberi arti
Senantiasa impikan sanubari

Tampa sebab akibat ia pergi
Terang benderang iapun selesai
Sambil pergi berbenah diri
Cahaya pelangipun mulai sepi

2008

Dimuat tanggal 19-10-2008


Sumber:
Deddy Firtana Iman